mangkya darajating praja - kawuryan wus sonya ruri - rurah pangrehing ngukara - karana tanpa palupi - ponang parameng kawi - kawileting tyas maladkung - kungas kasudranira - tidem tandaning dumadi - ardayeng rat dening karoban rubeda - R Ng Ranggawarsita - adapun martabat negara - kini terlihat sunyi senyap - aturan dan bahasa kacau - sedangkan para penyair - dibenam sesapan duka cinta - habis sudah keberanian mereka - padam sudah tanda-tanda kehidupan - dunia terasa disesaki petaka
Tampilkan postingan dengan label KLIPING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KLIPING. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

Kalender Jawa dan Misi Restorasi Budaya

PARA raja Nusantara di masa silam meninggalkan warisan karya adiluhung yang masih dapat dinikmati dan diapresiasi anak cucu hingga kini. Raja Sultan Agung (1613-1645) yang mewarisi kerajaan Mataram dari tiga pendahulunya, antara lain Panembahan Senapati (1587-1601), Panembahan Hanyakrawati (1601-1613), dan Adipati Martapura (1613-hanya sehari bertahta) misalnya, berhasil menciptakan sistem almanak atau kalender khas Jawa. Selanjutnya, sistem penanggalan hasil karya cipta Sultan Agung disebut Kalender Sultan Agungan. Sebelumnya, masyarakat Jawa menggunakan penanggalan tahun Saka, yang lazim digunakan dalam ajaran Hindu Jawa dan menggunakan dasar perhitungan solar (orbit matahari). Sultan Agung mengkreasi melalui misi adopsi budaya dengan sistem almanak Islam (Hijriah) yang menggunakan dasar perhitungan lunar (orbit bulan).
Dengan demikian, Sultan Agung benar-benar cerdas dan luwes. Para pujangga mengabadikan nama Sultan Agung sebagai narendra gung binathara, bau dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, mamayu hayuning bawana, yang berarti sebagai pemimpin besar penuh wibawa, memegang keadilan, menjunjung hukum, dan senantiasa menjaga keselarasan dunia. Dalam hubungannya dengan kultur dan ideologi asing (non-Jawa) di masa itu, Sultan Agung lebih bersikap terbuka dengan strategi akulturasi budayanya. Karena itu, ia mampu meramu dua budaya dan ajaran, yaitu Hindu (India) dan Islam (Arab melalui saudagar India) ke pangkuan budaya Jawa induk kultur primordialnya. Kalender Sultan Agungan merupakan manifestasi dari hasil paduan tiga budaya besar dan luhur tersebut. Sikap Sultan Agung ini juga mencerminkan strategi politik kebudayaan Mataram dalam hubungannya sebagai musuh Kumpeni Belanda. Karena itu, sikap politik Sultan Agung yang lebih kultural-humanis justru lebih mencerminkan keberhasilannya secara kultural dalam menghimpun kekuatan legitimasi dari pemangku kultur Islam, Hindu, dan Jawa (Nusantara). Strategi tersebut ditempuh setelah Sultan Agung mengevaluasi kegagalannya menghancurkan Batavia pada 1628. Meski menuai kekalahan, namun penyerangan Mataram saat itu menandai sikap Sultan Agung yang antikolonial. Lebih dari itu, pasukan Mataram berhasil menghabisi Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen atau yang dijuluki Mur Jangkung pada 20 September 1629, meski oleh pihak VOC secara diplomatis dikatakan penyebab kematian Jan Pieter karena penyakit kolera.
Dalam sejarahnya, Sultan Agung mulai menyusun sistem perhitungan penanggalan tersebut pada 1 Sura tahun Alip bertepatan angka tahun 1555, yang pada masa itu bersamaan perhitungan kalender Islam jatuh pada 1 Muharram 1043 atau dalam perhitungan kalender Masehi jatuh pada 8 Juli 1633. Pemberian nama awal bulan dengan nama Sura (dibaca “Suro”) menurut Suryo Negoro, Upacara Tradisional dan Ritual Jawa (2001), dapat dirujuk dari dua bahasa. Pertama, dari kata “Asyura”, yang berarti hari kesepuluh bulan Muharram yang memuat serangkaian peristiwa bersejarah dari yang telah dialami para Nabi. Kedua, dari frasa “Mesu Salira” yang bila dikupas, dua kata itu terdiri “mesu” dam “salira” berarti “mati raga” atau berpuasa sebagai ikhtiar atau laku sesirik (berpantang terhadap sesuatu).
Selain mengubah sistem penanggalan, Sultan Agung juga mengadaptasi sistem penamaan bulan dan hari, yaitu dari lafal Islam dan Sansekerta menjadi berlafal Jawa. Pada perhitungan hari misalnya, Sultan Agung benar-benar menciptakan sendiri secara otentik sehingga perhitungan dan namanya juga khas Jawa, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Demikian pula dilengkapi wuku dan perhitungan windu (delapan tahunan), yakni Wawu, Jimakir, Alip. Ehe, Jimawal, Je, Dal, dan Be. Sedangkan penetapan tanggal 1 Sura 1945 tahun ini diawali pukul 16.00 WIB (di Pulau Jawa) hari Minggu Wage Tahun Wawu bertepatan 1 Muharram 1433 H dan jatuh pada 27 November 2011 dalam kalender Masehi. Kelak, kalender Sultan Agungan ini berakhir pada pukul 15.59 WIB tangal 16 November 2012.
Restorasi Budaya dan Kearifan Lokal
Lalu, bagaimana kita dapat mengapresiasi karya Sultan Agung di era globalisasi informasi saat ini? Beruntunglah kita saat ini karena Keraton Yogyakarta menerbitkan kalender Sultan Agungan. Kalender tersebut diluncurkan pada 5 September 2011 lalu bertepatan peringatan Amanat 5 September 1945. Kebijakan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan penerbitan kalender Sultan Agungan tentu menjadi momentum kultural yang bernilai historis. Upaya tersebut kiranya menjadi bagian dari misi Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam ikhtiarnya untuk merestorasi budaya dan kearifan lokal. Sekaligus, upaya tersebut melambangkan sebuah sistem gerak budaya dan perjuangan dari para pengemban dan pewaris nilai-nilai adiluhung di masa silam. Dengan diterbitkannya kembali sistem penanggalan khas produk kreativitas dan intelektualitas raja Mataram di era Sultan Agung, kiranya membuktikan betapa cerdas dan luwes pemimpin bangsa di masa silam. Artinya, Sultan Agung tidak hanya menunjukkan eksistensinya sebagai penguasa namun juga sebagai pujangga dan pencipta produk kultural yang kreatif.
Sultan Agung tentu tidak bersikap setengah-setengah dalam berakulturasi dengan beragam budaya dan ideologi asing. Ia melakukannya dengan penuh totalitas. Pada awal abad ke-17 itu sudah cukup majemuk budaya dan ideologi yang masuk ke tanah Jawa, khususnya yang berada dalam radius kekuasaan Mataram. Pada masa itu sudah ada Hindu, Buddha, Islam, serta Nasrani yang dibawa kolonial Belanda. Namun, Sultan Agung mampu merangkul, kecuali yang secara politis membawa misi penaklukan seperti yang digencarkan oleh VOC alias Kumpeni. Maksud dari totalitas sikap Sultan Agung, kiranya dapat dicermati dari kreativitas budayanya yang lain, seperti garebeg Sekaten pada bulan Mulud (Rabiulawal). Melalui momentum garebeg tersebut, Sultan Agung memberi kesempatan kepada umat Islam untuk melakukan syiar atau sosialisasi ajaran Islam. Tidak terkecuali peringatan menyambut tanggap warsa atau tahun baru yang jatuh pada 1 Sura atau 1 Muharram menandakan sikap toleran Sultan Agung kepada rakyat Mataram dan siapa pun yang berniaga dan hidup di wilayah Mataram pada masa itu.
Hasil kreasi Sultan Agung lainnya adalah petangan Jawi atau perhitungan penanggalan Jawa dari siklus wuku (pawukon). Bahkan, sistem tersebut dilengkapi watak hari dalam perlambangan tertentu. Ada kemungkinan kreativitas tersebut diilhami dari warisan sistem almanak di era sebelumnya, yaitu dari ajaran Hindu-Jawa yang lazim dikenal sebagai primbon. Konon, menurut Karkono Kamajaya, primbon merupakan kompilasi dari catatan yang dihimpun berdasarkan pengalaman alamiah dari leluhur atau nenek moyang yang mayoritas menganut ajaran Hindu dan merangkumnya sebagai produk kultural yang khas Hindu-Jawa. Sehingga, kita sebagai generasi penerus yang hidup di alam yang telah mengalami perubahan iklim secara global saat ini dapat mempelajarinya sebagai produk kultural dari peradaban nenek moyang kita. Catatan-catatan dalam primbon yang dapat digolongkan sebagai firasat atau isyarat tersebut bukan berarti memiliki kebenaran mutlak, karena rujukannya didasarkan pengalaman alamiah nenek moyang tersebut.
Bila kita mencermati kalender Sultan Agungan hasil keluaran Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, kita seakan-akan dibimbing untuk melatih sistem berpikir atau berdialektika dari yang selama ini kita pergunakan. Kita juga bagai diajak menggunakan perspektif baru, bahkan meskipun yang tertera di kalender tersebut seperti hanya menginformasikan agenda Keraton Yogyakarta dalam hitungan satu tahun ke depan, yang berangka tahun 1945 dengan candra sengkala “Yogya Karta Gatraning Nagara”. Namun, pada saat bersamaan, kita bagai merasa memiliki kekayaan dari harta karun peninggalan leluhur kita di masa silam. Misalnya, sistem penanggalan yang dieksplorasi dari kultur agraris berupa deskripsi singkat pranata mangsa (perkiraan musim) dan agenda pemerintahan “Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat”. Beberapa agenda Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat yang dijadwalkan dalam kalender Sultan Agungan tersebut adalah khaul atau memule mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang jatuh pada 21 Sapar (16 Desember 2011), rangkaian acara Sekaten pada Mulud (Januari 2012), Tingalan Dalem Tahunan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 29 Bakdamulud (23 Maret 2012), peringatan berdirinya Nagari Dalem (Ngayogyakarta Hadiningrat) pada 29 Jumadilawal (21 April 2012), labuhan, nyadran, dan garebeg Besar (Idul Adha) serta sejumlah pernik rangkaian acara khas Jawa-Mataram Islam lainnya. (R. Toto Sugiharto)

Jumat, 31 Desember 2010

Sehari dalam Hidup Mas Kanjeng

oleh: R Toto Sugiharto
(sudah dimuat di “Mata Baca” Volume 3 No 1 September 2004)

IA sudah terbiasa tidur beralas tikar di teras kediamannya di Jalan Nagan Lor 21 Yogyakarta. Ia akan menemani tamu-tamunya yang menghabiskan malam sampai di ujung fajar. Sesekali ia keluar mencarikan makan malam untuk kucingnya, Si Thole dari warung angkringan, tak jauh dari kediamannya. Sekitar pukul 03.00 ia bersiap-siap mengenakan jas, topi, atau kadang-kadang kopiah. Kemudian ia mengayuh sepedanya ke kantor redaksi harian Bernas di Jalan IKIP PGRI Sonosewu, Kasihan, Bantul, sekitar tiga kilometer dari kediamannya.

Beberapa naskah biasanya diselesaikannya hingga pukul 10.00. Selepas itu ia memiliki waktu luang. Maka, ia akan kembali ke kediamannya di Nagan Lor, ngobrol tentang apa saja bersama tetangga atau siapa pun yang datang dan menanyakan sesuatu. Dalam situasi santai, ia biasa bertelanjang dada dengan udeng di kepala.

Ya, Suryanto Sastroatmodjo, namanya. Bertanyalah perihal apa saja. Terutama tentang kebudayaan Jawa atau seputar kehidupan para pangeran dan sejarah raja-raja atau situs-situs di Pulau Jawa. Mungkin juga seputar prosedur laku dan mengapa seseorang harus menjalani laku tertentu. Maka, meluncurlah serangkaian penjelasan dari Suryanto Sastroatmodjo.

Senja. Rabu Wage, 21 Juli 2004. Seperti biasa, jika ada waktu luang saya mampir ke kediamannya. Ia menyambut saya dengan senyum khas dan lambaian tangannya. Ia pasti sedang santai karena bertelanjang dada dan mengenakan udeng.

Saya berbasa-basi memberi kabar baik.

Ia kemudian mulai bercerita: sebuah tim reportase dari sebuah televisi swasta baru saja mewawancarainya. Topiknya pengaruh Islam sufi, sunni, dan syiah dalam karya sastra Jawa. Ia memulai dengan cerita fabel tentang pelanduk atau kancil. Cerita fabel itu awalnya pada abad ke-15 disusun Sunan Giri dengan judul Falando Jinanataka dalam bahasa Melayu. Fabel dimaksudkan sebagai simbol intelektualitas dalam spirit pencapaian religiusitas manusia.

“Jadi, kalau memakai tokoh binatang, kan netral. Sunan Giri sudah mengambil kisah dari Persia. Waktu itu abad ke-15. Sebab, Sunan Giri yang juga menggunakan nama Raden Paku itu ada darah Timur Tengah juga. Pelanduk itu, kan bahasa Melayu dari asalnya, Persia, falando. Sebenarnya itu juga menceritakan perjalanan spiritual Sunan Giri,” katanya.

Fabel serupa kemudian memengaruhi karya sastra Jawa sebagai hasil dialog budaya. Namun, di belakang hari, cerita binatang tentang kancil atau pelanduk mengalami perubahan. Pelanduk berubah sebagai tokoh binatang yang banyak akal dan tipu daya. Fenomena itu terjadi di saat bentuk sastra lisan merajai dan digencarkan oleh tukang cerita atau juru dongeng jalanan.

Dua Nama di Jalan Pena
Nama lengkapnya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryanto Sastroatmodjo. Sebagian orang, khususnya kerabat dekat dan tetangganya, memanggilnya Romo Suryanto. Sebagian koleganya memanggilnya Mas Kanjeng. Nama Suryanto Sastro dipakainya dalam kapasitasnya sebagai narasumber acara mistik di sebuah televisi swasta. Ia juga menyandang nama KRT Surya Puspa Hadinegara, sebuah nama pemberian mendiang Sunan Pakubuwana XII.

Ya. Mas Kanjeng yang dilahirkan 22 Februari 1957 di Bojonegoro, sebelumnya bernama RPA (Raden Panji Anom) Suryanto Sastroatmodjo. Ayahnya, Kanjeng Raden Adipati Aryo Sutejo Suryo Hadinegoro, pernah menjabat bupati di Bojonegoro.

Mas Kanjeng adalah anak ketujuh dari 12 bersaudara dari ibu, Raden Ayu Sri Haluwiyah Wuryaningrum. Keenam saudara kandungnya menggeluti ilmu eksakta dan meraih gelar insinyur dan dokter. Hanya ia seorang yang concern menempuh hidup di jalan pena, sebagai jurnalis dan budayawan.

“Ibu sebenarnya mengarahkan saya menjadi birokrat. Beliau menyekolahkan saya di Semarang (ia menyebut sebuah nama perguruan tinggi administrasi pemerintahan dalam negeri – RTS). Tapi, saya lebih tertarik kuliah di Yogya (Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gadjah Mada – RTS). Eyang saya, Panembahan Adipati Puger juga yang memengaruhi saya tertarik dengan budaya Jawa. Eyang suka membacakan Serat Centhini dan banyak melatih saya menulis geguritan (puisi berbahasa Jawa – RTS) dan membacakan serat,” tutur Mas Kanjeng.

Satu nama lagi yang juga banyak memengaruhi jalan hidup Mas Kanjeng : Raden Mas Djokomono Tirto Adhisoerjo. Djokomono bukanlah nama asing dalam dunia pers. Tokoh pers nasional pendiri koran Medan Prijaji (1896-1927), yang mengilhami Pramoedya Ananta Toer menulis tetralogi: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Boleh jadi, dalam hal profesi Mas Kanjeng sebagai jurnalis, ia juga terinspirasi dari Djokomono Tirto Adhisoerjo. Artinya, jalan pena yang ditempuhnya hingga saat ini merupakan paduan dari kakak beradik Djokomono Tirto Adhisoerjo dan Panembahan Adipati Puger. Sambil menyelesaikan kuliahnya, pada 1980-an ia mengawali sebagai freelance dan menjadi reporter di Mercusuar, Pelopor Yogya, dan Suluh Indonesia (cikal bakal Berita Nasional – RTS).

“Saya pernah memberi masukan ke Pramoedya. Minke (protagonis di tetralogi – RTS) itu kan, Djokomono. Ya, soal cerita dia tentang kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke yang sangat romantis itu. Mungkin memang dibutuhkan dramatisasi seperti itu (dalam tetralogi – RTS). Saya pernah menyurati Pram. Kemudian Pram menulis buku lagi, Sang Pemula. Masih tentang Djokomono,” katanya.

Suryanto tentu saja sudah banyak menulis. Di luar kesibukannya sebagai jurnalis di harian Bernas, ia menyempatkan menulis geguritan atau artikel berbahasa Jawa untuk media mingguan bahasa Jawa Djaka Lodang (Yogyakarta) dan Jaya Baya (Surabaya). Ia juga terbuka menerima kolega atau siapa saja yang berkeinginan menanyakan sesuatu hal yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa.

Karya-karya Suryanto juga telah didokumentasikan dalam bentuk microfilm oleh Koninlijk Instituut voor de Taal, Land en Volkenkunde (KITLV). Beberapa judul yang dapat disebutkan adalah “Sang Bocah”, “Sayap-Sayap Merpati”, “Balada Lintang”, dan “Pada Sebuah Musim” (sepeninggal Mas Kanjeng, manuskrip ini kemudian dibukukan dengan judul Bung Sultan, Bunga Rampai Esai tentang Lelaku Priyayi Jawa – Adi Wacana, 2007 – kebetulan saya sebagai penyuntingnya). Suryanto juga membintangi film cerita pendek berlatar budaya Jawa, Kliwon, My Brother karya Luki dan mendapatkan penghargaan Festival Film Pendek Dunia di Nagoya, Jepang. Film yang sama diajukan ke Festival Film Cannes di Prancis dan meraih hadiah untuk penyutradaraan dan casting.

“Itu ceritanya mengharukan sekali. Kucingnya, Si Kliwon bisa benar-benar menjadi aktor. Kalau nama aslinya Pungki. Manut (menurut – RTS) diatur. Kalau azan maghrib, ia tepekur,” tuturnya.

Upaya melestarikan seni budaya Jawa tetap dilakukannya. Antara lain bersama Koordinator Jurnalis Peduli Budaya Yogyakarta Drs Yoyok Hadi Wahyono, SE menggelar forum macapat (sajak bermetrum yang dinyanyikan – RTS) rutin sebulan sekali di Hotel Natour Garuda, Jalan Malioboro Yogyakarta. Hingga saat ini forum Pasamuan Dharma Sri Winahya itu sudah memasuki tahun kesembilan.

Macapat, kata Mas Kanjeng yang masih bertahan hidup membujang itu, memiliki daya sugesti apabila dikemas dalam bentuk mantra untuk hal-hal terkait dan sesuai konteksnya. Selain itu, sastra berbasis bahasa ibu, bahasa Jawa, tetap eksis dan dipertahankan kreator lokal. Artinya, masih ada prestise sastra Jawa sebagai kenyataan sosial dan harus diperjuangkan secara struktural agar menjadi kekuatan sinergis bersama sastra Indonesia. Diperlukan pula revitalisasi untuk memerkuat budaya Nusantara yang dihidupkan oleh media massa cetak berbahasa Jawa.

Tak terasa. Waktu sudah mencapai pukul 01.30 dini hari. Mas Kanjeng masih melayani kami berenam yang datang bergantian, ngobrol masalah apa saja.
Seorang tetangga mengantarkan enam bungkus nasi goreng untuk kami. Katanya, sebagai syukuran nomor togelnya nembus.

“Sik metu pira ta? (yang keluar berapa sih – RTS), Pak Bas?” sahut Mas Kanjeng tiba-tiba.

“Enem-sekawan-enem-tiga, Romo,” jawab Pak Bas.

“Wah, aku ra nembus (aku tak dapat – RTS),” ujar Mas Kanjeng.

Kami pun tertawa.

“Suka pasang nomor juga ya?” tanya seorang kawan.

Mas Kanjeng terkekeh.

Lalu, adakah hal unik lainnya yang masih melekat dalam diri Mas Kanjeng? Sebab, banyak orang bertanya kepada saya tentang Mas Kanjeng. Mereka pasti menyangka saya tergolong sobat dekatnya. Tapi, saya merasa Mas Kanjeng biasa-biasa saja. Kadang-kadang saya mengidentifikasikan Mas Kanjeng sebagai samin, seperti yang pernah ditulisnya, Masyarakat Samin, Siapakah Mereka? (Narasi 2003).

Mas Kanjeng sendiri menolak disebut sebagai samin. Sebab, ia tidak menolak teknologi. Saya tidak tahu pasti. Tapi, mungkin ini: sedikitnya, sudah dua kali saya memboncengkan Mas Kanjeng dalam keadaan sengaja berbasah kuyup.
Waktu itu langit berawan hitam menggantung di angkasa. Di tengah jalan tiba-tiba turun hujan sangat lebat. Saya menepikan sepeda motor dan mengenakan jas hujan. Tapi, ternyata Mas Kanjeng menolak melindungi badannya dari curah hujan. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup hingga menggigil kedinginan. Karena jarak tempuh kami masih jauh, saya pun memilih berteduh. Untuk beberapa saat, setelah hujan mereda kami melanjutkan perjalanan lagi. Saya tidak tahu adakah itu unsur-unsur samin yang melekat dalam dirinya. Saya belum sempat menanyakannya. Mungkin pada kesempatan lain saya akan menanyakannya....

“Angon Wayah” untuk Buku dan Pers
BUKU itu segalanya bagi saya. Artinya, saya harus selalu didampingi buku. Rasanya tak mungkin hidup tanpa buku. Buku apa saja. Komik juga. Dulu ibu saya selalu ngasih hadiah buku, tuturnya.

Ia pun mengilustrasikan masa lalunya. Dulu, waktu tinggal di Asrama Mahasiswa UGM Darma Putera, setiap mandi harus antre. Jadi, harus menunggu lama. Karenanya, untuk menghabiskan waktu menunggu, ia nongkrong sambil membaca buku.

Menghabiskan waktu dengan membaca buku akan lebih berguna. Maka, ke mana pun ia pergi, sedikitnya sebuah judul buku selalu ada di tangannya. Koleksi buku Mas Kanjeng kini mencapai 10.000-an judul. Sebagian besar diperoleh dari hibah sebagai warisan dari Bupati Tuban R Widagdo. Sebagian lainnya disimpan di Karanganyar, eks-Karesidenan Surakarta yang hampir memenuhi isi kamar. Topiknya apa saja, dari ekonomi, sosial, budaya, politik ataupun antropologi. Juga, buku-buku kerohanian dan masalah spiritualitas. Di antara jumlah yang lumayan banyak itu, buku-buku Mas Kanjeng sebagian disimpan di kantor Javanologi Panunggalan, Kompleks Sidobali, Yogyakarta.

Mas Kanjeng juga pernah dianugerahi buku sebanyak dua colt pick up pada 1979 dari Romo Windi Atmoko, SJ dan Dick Hartoko. Mereka merasa terkesan setelah mendapatkan pelayanan Mas Kanjeng yang berperan sebagai guide dalam perjalanan mereka ke Blambangan dan Madura.

Salah satu judul buku yang berkesan di hatinya adalah Pre-Emperor to Citizen. Buku karya Emerald Chang, seorang aktivis Partai Komunis Cina itu mengisahkan riwayat hidup Pu Yi, Kaisar terakhir yang mengilhami pembuatan film The Last Emperor (1987).

Buku dan Mas Kanjeng memang ibarat ikan dengan airnya. Maka, apabila malam hari, setelah terbebas dari rutinitas harian sebagai jurnalis, Mas Kanjeng selalu menyempatkan membuka-buka buku. Termasuk sebuah buku tebal, Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno selalu menemaninya, sampai ia terkantuk-kantuk. Sesekali, Mas Kanjeng menggunakan buku tebal itu sebagai bantal.
Sebagai jurnalis, Mas Kanjeng sebenarnya juga merindukan pers yang mampu memainkan peran optimal untuk kontrol sosial. Khususnya optimalisasi pers dalam memainkan perannya untuk mewujudkan budaya keterbukaan. Sebaliknya, di sisi lain pers ternyata juga dituntut untuk mampu angon wayah (beradaptasi dengan situasi – RTS). Semisal ada kehendak untuk membongkar korupsi, tapi ternyata kasus itu potensial untuk mengeliminasi terjadinya kejahatan yang lebih besar lagi dengan melibatkan massa lebih banyak.

Ia mencontohkan pengalaman Djokomono Tirto Adhisoerjo yang pernah menulis laporan tentang korupsi yang dilakukan seorang demang di Lampung. Demang itu menyalahgunakan kekuasaan, yakni memungut biaya di luar pajak terhadap masuknya barang kebutuhan rakyat di pelabuhan. Sementara penyelundupan candu tidak digubris. Ternyata tingkah laku demang sengaja dibiarkan Walinegeri setempat. Sebab, jika modus penyelundupan candu dibongkar maka akan melibatkan banyak orang yang kehidupannya bergantung pada praktik tersebut yang juga dikehendaki residen.

“Pers memang untuk mengawali keterbukaan. Tapi, istilahnya mesti angon wayah, melihat suasana atau situasi lebih dahulu, bagaimana kadar kewajaran menghendaki. Salah satunya dengan kritik yang konstruktif, yang disampaikan dengan halus supaya yang bersangkutan menghentikan kejahatannya,” katanya.

Senin, 06 Desember 2010

Sejarah Gunung Merapi

TENTUNYA menghindari bahayanya serta memanfaatkan faedahnya tidak hanya diperlukan ketika sedang membutuhkan saja. Cerita sejarah gunung Merapi juga menarik untuk diketahui sebagai pengetahuan bagi kita yang awam vulkanologi. Di bawah ini tulisan dari Badan Geologi mengenai sejarah Gunung Merapi yang sedang bergolak.

SEJARAH GEOLOGI

Hasil penelitian stratigrafi menunjukkan sejarah terbentuknya Merapi sangat kompleks. Wirakusumah (1989) membagi Geologi Merapi menjadi 2 kelompok besar yaitu Merapi Muda dan Merapi Tua. Penelitian selanjutnya (Berthomier, 1990; Newhall & Bronto, 1995; Newhall et.al, 2000) menemukan unit-unit stratigrafi di Merapi yang semakin detil. Menurut Berthommier,1990 berdasarkan studi stratigrafi, sejarah Merapi dapat dibagi atas 4 bagian :

PRA MERAPI (+ 400.000 tahun lalu)

Disebut sebagai Gunung Bibi dengan magma andesit-basaltik berumur ± 700.000 tahun terletak di lereng timur Merapi termasuk Kabupaten Boyolali. Batuan gunung Bibi bersifat andesit-basaltik namun tidak mengandung orthopyroxen. Puncak Bibi mempunyai ketinggian sekitar 2050 m di atas muka laut dengan jarak datar antara puncak Bibi dan puncak Merapi sekarang sekitar 2.5 km. Karena umurnya yang sangat tua Gunung Bibi mengalami alterasi yang kuat sehingga contoh batuan segar sulit ditemukan.

MERAPI TUA (60.000 – 8000 tahun lalu)

Pada masa ini mulai lahir yang dikenal sebagai Gunung Merapi yang merupakan fase awal dari pembentukannya dengan kerucut belum sempurna. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan Plawangan berumur sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya terdiri dari batuan dengan komposisi andesit basaltic dari awan panas, breksiasi lava dan lahar.

MERAPI PERTENGAHAN (8000 – 2000 tahun lalu)

Terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun bukit Batulawang dan Gajahmungkur, yang saat ini nampak di lereng utara Merapi. Batuannya terdiri dari aliran lava, breksiasi lava dan awan panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan “de¬bris-avalanche” ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal-kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Pada periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.

MERAPI BARU (2000 tahun lalu – sekarang)

Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi yang saat ini disebut sebagai Gunung Anyar yang saat ini menjadi pusat aktivitas Merapi. Batuan dasar dari Merapi diperkirakan berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur sekitar 2000 tahun. Letusan besar dari Merapi terjadi di masa lalu yang dalam sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang terletak ± 23 km selatan dari Merapi. Studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999) telah menunjukkan bahwa beberapa letusan besar, dengan indek letusan (VEI) sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu. Letusan besar terakhir dengan sebaran yang cukup luas menghasilkan Selokopo tephra yang terjadi sekitar sekitar 500 tahun yang lalu. Erupsi eksplosif yang lebih kecil teramati diperkirakan 250 tahun lalu yang menghasilkan Pasarbubar tephra.

SEJARAH ERUPSI

Tipe erupsi Gunung Merapi dapat dikategorikan sebagai tipe Vulkanian lemah. Tipe lain seperti Plinian (contoh erupsi Vesuvius tahun 79) merupakan tipe vulkanian dengan daya letusan yang sangat kuat. Erupsi Merapi tidak begitu eksplosif namun demikian aliran piroklastik hampir selalu terjadi pada setiap erupsinya. Secara visual aktivitas erupsi Merapi terlihat melalui proses yang panjang sejak dimulai dengan pembentukan kubah lava, guguran lava pijar dan awanpanas (pyroclastic flow).
Merapi termasuk gunungapi yang sering meletus. Sampai Juni 2006, erupsi yang tercatat sudah mencapai 83 kali kejadian. Secara rata-rata selang waktu erupsi Merapi terjadi antara 2 – 5 tahun (periode pendek), sedangkan selang waktu periode menengah setiap 5 – 7 tahun. Merapi pernah mengalami masa istirahat terpanjang selama >30 tahun, terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunungapi. Memasuki abad 16 kegiatan Merapi mulai tercatat cukup baik. Pada masa ini terlihat bahwa waktu istirahat terpanjang pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 sampai dengan tahun 1658.

Evolusi Gunung Merapi

Sejarah letusan gunung Merapi mulai dicatat (tertulis) sejak tahun 1768. Namun demikian sejarah kronologi letusan yang lebih rinci baru ada pada akhir abad 19. Ada kecenderungan bahwa pada abad 20 letusan lebih sering dibanding pada abad 19. Hal ini dapat terjadi karena pencatatan suatu peristiwa pada abad 20 relatif lebih rinci. Pemantauan gunung api juga baru mulai aktif dilakukan sejak awal abad 20. Selama abad 19 terjadi sekitar 20 letusan, yang berarti interval letusan Merapi secara rata-rata lima tahun sekali. Letusan tahun 1872 yang dianggap sebagai letusan terakhir dan terbesar pada abad 19 dan 20 telah menghasilkan Kawah Mesjidan lama dengan diameter antara 480-600m. Letusan berlangsung selama lima hari dan digolongkan dalam kelas D. Suara letusan terdengar sampai Kerawang, Madura dan Bawean. Awan panas mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol.

Awan panas dan material produk letusan menghancurkan seluruh desa-desa yang berada di atas elevasi 1000m. Pada saat itu bibir kawah yang terjadi mempunyai elevasi 2814m (;bandingkan dengan saat ini puncak Merapi terletak pada elevasi 2968m). Dari peristiwa-peristiwa letusan yang telah lampau, perubahan morfologi di tubuh Gunung dibentuk oleh lidah lava dan letusan yang relatif lebih besar. Gunung Merapi merupakan gunungapi muda. Beberapa tulisan sebelumnya menyebutkan bahwa sebelum ada Merapi, telah lebih dahuiu ada yaitu Gunung Bibi (2025m), lereng timurlaut gunung Merapi. Namun demikian tidak diketahui apakah saat itu aktivitas vulkanik berlangsung di gunung Bibi. Dari pengujian yang dilakukan, G. Bibi mempunyai umur sekitar 400.000 tahun artinya umur Merapi lebih muda dari 400.000 tahun. Setelah terbentuknya gunung Merapi, G. Bibi tertimbun sebagian sehingga saat ini hanya kelihatan sebagian puncaknya. Periode berikutnya yaitu pembentukan bukit Turgo dan Plawangan sebagai awal lahirnya gunung Merapi. Pengujian menunjukkan bahwa kedua bukit tersebut berumur sekitar maksimal 60.000 tahun (Berthomrnier, 1990). Kedua bukit mendominasi morfologi lereng selatan gunung Merapi.

Pada elevasi yang lebih tinggi lagi terdapat satuan-satuan lava yaitu bukit Gajahmungkur, Pusunglondon dan Batulawang yang terdapat di lereng bagian atas dari tubuh Merapi. Susunan bukit-bukit tersebut terbentuk paling lama pada, 6700 tahun yang lalu (Berthommier,1990). Data ini menunjukkan bahwa struktur tubuh gunung Merapi bagian atas baru terbentuk dalam orde ribuan tahun yang lalu. Kawah Pasarbubar adalah kawah aktif yang menjadi pusat aktivitas Merapi sebelum terbentuknya puncak.
Diperkirakan bahwa bagian puncak Merapi yang ada di atas Pasarbubar baru terbentuk mulai sekitar 2000 tahun lalu. Dengan demikian jelas bahwa tubuh gunung Merapi semakin lama semakin tinggi dan proses bertambahnya tinggi dengan cepat nampak baru beberapa ribu tahun lalu. Tubuh puncak gunung Merapi sebagai lokasi kawah aktif saat ini merupakan bagian yang paling muda dari gunung Merapi. Bukaan kawah yang terjadi pernah mengambil arah berbeda-beda dengan arah letusan yang bervariasi. Namun demikian sebagian letusan mengarah ke selatan, barat sampai utara. Pada puncak aktif ini kubah lava terbentuk dan kadangkala terhancurkan oleh letusan. Kawah aktif Merapi berubah-ubah dari waktu ke waktu sesuai dengan letusan yang terjadi. Pertumbuhan kubah lava selalu mengisi zona-zona lemah yang dapat berupa celah antara lava lama dan lava sebelumnya dalam kawah aktif Tumbuhnya kubah ini ciapat diawali dengan letusan ataupun juga sesudah letusan. Bila kasus ini yang terjadi, maka pembongkaran kubah lava lama dapat terjadi dengan membentuk kawah baru dan kubah lava baru tumbuh dalam kawah hasil letusan. Selain itu pengisian atau tumbuhnya kubah dapat terjadi pada tubuh kubah lava sebelumnya atau pada perbatasan antara dinding kawah lama dengan lava sebelumnya. Sehingga tidak mengherankan kawahkawah letusan di puncak Merapi bervariasi ukuran maupun lokasinya. Sebaran hasil letusan juga berpengaruh pada perubahan bentuk morfologi, terutama pada bibir kawah dan lereng bagian atas. Pusat longsoran yang terjadi di puncak Merapi, pada tubuh kubah lava biasanya pada bagian bawah yang merupakan akibat dari terdistribusikannya tekanan di bagian bawah karena bagian atas masih cukup kuat karena beban material.

Lain halnya dengan bagian bawah yang akibat dari desakan menimbulkan zona-zona lemah yang kemudian merupakan pusat-pusat guguran. Apabila pengisian celah baik oleh tumbuhnya kubah masih terbatas jumlahnya, maka arah guguran lava masih dapat terkendali dalam celah yang ada di sekitarnya. Namun apabila celah-celah sudah mulai penuh maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan tumbuhnya kubah. Sehingga pertumbuhan kubah lava yang sifat menyamping (misal, periode 1994 – 1998) akan mengakibatkan perubahan arah letusan. Perubahan ini juga dapat terjadi pada jangka waktu relatif pendek dan dari kubah lava yang sama. Pertumbuhan kubah lava ini berkembang dari simetris menjadi asimetris yang berbentuk lidah lava. Apabila pertumbuhan menerus dan kecepatannya tidak sama, maka lidah lava tersebut akan mulai membentuk morfologi bergelombang yang akhirnya menjadi sejajar satu sama lain namun masih dalam satu tubuh. Alur pertumbuhannya pada suatu saat akan mencapai titik kritis dan menyimpang menimbulkan guguran atau longsoran kubah. Kronologi semacam ini teramati pada th 1943 (April sampai Mei 1943).

Penumpukan material baru di daerah puncak akibat dari pertumbuhan kubah terutama terlihat dari perubahan ketinggian maksimum dari puncak Merapi. Beberapa letusan yang dalam sejarah telah mengubah morfologi puncak antara lain letusan periode 1822-1823 yang menghasilkan kawah berdiameter 600m, periode 1846 – 1848 (200m), periode 1849 (250 – 400m), periode 1865 – 1871 (250m), 1872 – 1873 (480 – 600 m), 1930, 1961. (Sumber artikel : Badan Geologi/(dipetik dari http://alumni.ugm.ac.id Portal Alumni Universitas Gadjah Mada)